Petugas yang sedang memantau dari menara api PT SHP yang jadi mata pertama deteksi Karhutla di Muba.

Petugas yang sedang memantau dari menara api PT SHP yang jadi mata pertama deteksi Karhutla di Muba.

MUSI BANYUASIN — Ketika kepulan asap terlihat dari kejauhan, rangkaian respons terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, mulai bergerak.

Informasi awal itu bisa berasal dari menara api, patroli darat maupun patroli menggunakan moda lainnya. Data tersebut kemudian diteruskan ke pusat kendali untuk diverifikasi sebelum petugas dikerahkan ke lokasi.

Salah satu sistem pemantauan itu dijalankan di wilayah operasional PT Sumber Hijau Permai (SHP), Distrik Sembilang. Di kawasan tersebut, menara api setinggi 32 meter menjadi salah satu titik pemantauan potensi karhutla.

Dari atas menara, petugas dapat mengamati area dengan jangkauan sekitar 7–10 kilometer. Pengamatan dilakukan selama 24 jam untuk mendeteksi asap maupun tanda-tanda awal kebakaran.

Amiril dari KPH Lalan Mendis mengatakan menara api merupakan salah satu sarana penting dalam pengendalian karhutla.

“Menara api tersebut sebagai sarana prasarana untuk Deteksi Dini Pengendalian Karhutla yang wajib dimiliki oleh setiap pemegang PBPH sesuai dengan ketentuan dlm Permen LHK No. 32 Tahun 2016,” kata Amiril.

Pada siang hari, pengamatan dilakukan personel Regu Pemadam Kebakaran (RPK) bersama Kelompok Masyarakat Peduli Api (KMPA). Selain berjaga di menara, personel juga melakukan patroli untuk memantau area yang tidak terlihat dari titik pengamatan.

Sementara pada malam hari, dua personel RPK berjaga secara bergantian.

Petugas menara dilengkapi sejumlah peralatan untuk mendukung proses pemantauan. Di antaranya teropong, GPS, kompas, radio komunikasi serta alat pelindung diri.

Hasil pengamatan kemudian diperbarui setiap satu jam kepada Pusat Komando dan Pengendalian (Puskodal). Jika ditemukan asap atau indikasi kebakaran, petugas menyampaikan informasi mengenai lokasi dan arah kejadian untuk dilakukan verifikasi.

Koordinator Fire Prevention PT Sumber Hijau Permai, Opy Caezar, mengatakan kecepatan penyampaian informasi menjadi salah satu faktor penting dalam merespons indikasi kebakaran.

“Dalam pengendalian karhutla, kecepatan informasi sangat menentukan respons di lapangan. Karena itu, setiap indikasi yang terlihat dari menara maupun ditemukan melalui patroli harus segera diverifikasi dan diteruskan agar tim terdekat dapat bergerak secepat mungkin,” kata Koordinator Fire Prevention PT Sumber Hijau Permai Opy Caezar.

Sistem tersebut tidak hanya mengandalkan pengamatan dari menara. Area yang tidak terjangkau pandangan atau masuk kategori blank spot dipantau melalui patroli.

Patroli dilakukan menggunakan sejumlah moda, mulai dari sepeda motor, mobil, speed boat hingga drone. Kendaraan yang digunakan juga dilengkapi peralatan pemadaman mekanis dan manual sehingga petugas dapat melakukan penanganan awal apabila menemukan indikasi kebakaran.

Sebanyak 30 personel RPK disiapkan untuk mendukung kegiatan pemantauan, patroli hingga penanganan di lapangan.

Seluruh informasi yang masuk kemudian dikelola melalui Dispatch Center. Pusat ini menjadi bagian dari mekanisme pengaturan pengerahan personel dan peralatan berdasarkan lokasi kejadian.

Ketika laporan diterima Puskodal, personel yang berada paling dekat dengan titik kejadian dapat diarahkan untuk melakukan pengecekan. Dengan pola tersebut, pengerahan tidak harus selalu dimulai dari satu titik terpusat.

Tim terdekat dapat bergerak lebih dahulu, sedangkan personel tambahan disiapkan apabila kondisi di lapangan membutuhkan penguatan.

Mekanisme tersebut salah satunya diterapkan pada 24 Agustus 2026.

Sekitar pukul 11.30 WIB, petugas yang berada di menara mendeteksi asap dari arah kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS). Lokasi yang terpantau tersebut berada di luar konsesi perusahaan.

Informasi kemudian diteruskan kepada Puskodal. Tim lapangan dikerahkan untuk melakukan pengecekan langsung berdasarkan titik dan arah yang dilaporkan.

Setelah bergerak menuju lokasi, tim menemukan adanya area yang terbakar. Temuan tersebut menjadi contoh bagaimana informasi dari titik pemantauan dapat diteruskan menjadi dasar verifikasi langsung di lapangan.

Menurut Opy, mekanisme pemantauan dan respons tersebut terus dijalankan sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla. Perubahan kondisi di lapangan yang dapat berlangsung cepat membuat kecepatan informasi menjadi bagian penting dalam respons.

Selain deteksi dan respons, upaya pencegahan juga dilakukan. SHP menjalankan sosialisasi kepada masyarakat, membangun kerja sama dengan KMPA serta mengelola sumber air melalui pembangunan embung dan dam zonasi.

Rangkaian tersebut membentuk satu sistem pengendalian karhutla, mulai dari pengamatan di menara, patroli untuk menjangkau area yang tidak terlihat, penyampaian informasi ke pusat kendali, pengerahan personel terdekat hingga penanganan awal di lokasi.

Dalam sistem ini, kepulan asap yang terlihat dari kejauhan bukan sekadar tanda adanya potensi kebakaran. Informasi tersebut menjadi titik awal bagi petugas untuk melakukan verifikasi dan menentukan langkah penanganan di lapangan.(rna)